Monday, 9 April 2012

PUNCA KEMUNDURAN UMAT ISLAM



Haruskah Selalu Disebabkan Oleh Ketiadaan Khilafah?

 

Itulah pertanyaan yang timbul ketika membaca Buletin Al-Islam Edisi 347/Thn. XIV, terutama tulisan yang ada di halaman 3. Dalam Buletin tersebut, sang redaksi menulis ketika menyimpulkan topik Iraq (Konferensi Baghdad) : “Sesungguhnya ketiadaan Khilafah bagi kaum Muslim yang menghimpun mereka dalam kebenaran merupakan penyebab mundurnya umat Islam dan rakusnya bangsa dan umat lain terhadap umat Islam ini yang mendorong mereka untuk mengerubuti hidangannya. Jika saja Khalifah ada, tentu Khalifah akan berkumpul, dengan memimpin pasukan dan seluruh armada perang terbuka guna menolong setiap negeri yang terjajah………dst. [selesai nukilan]

 

Lagi-lagi kata mereka bahwa penyebab utamanya adalah ketiadaan khilafah. topik seperti ini bukanlah sekali atau dua kali singgah di mata saya ketika membaca. Ketika ada pelacuran yang bermaharajalela, sebabnya karena ketiadaan khilafah. Ketika banyak korupsi, dan nepotisme; karena ketiadaan khilafah. Ketika banyak bermunculan paham sesat, karena ketiadaan khilafah. Dan seterusnya.

Bahkan ketika ada khilaf perbezaan hari ‘Ied, lagi-lagi mereka menisbatkan penyebabnya karena ketiadaan Khilafah (padahal dalam Shahih Muslim telah disebutkan perbedaan permulaan Ramadlan dan ‘Ied antara Madinah dan Syam di zaman Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma – dan itu terjadi di zaman kekhilafahan). Khilafah seakan menjadi solusi mujarab yang untuk mengkliminasi segala macam musibah dan ketidaksesuaian. Rasa-rasanya jarang sekali mereka (saudara-saudaraku di Hizbut-Tahrir khususnya) menisbatkan sebab-sebab permasalahan dan bencana pada kejahilan umat Islam akan Diennya, lemahnya iman mereka kepada Allah dan hari akhir, dan lainnya yang lebih berdasar syar’ie, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama kita terdahulu dan sekarang dalam banyak kitabnya.

Bukankah kehancuran kekhilafahan Baghdad waktu dulu oleh tentera tartar terjadi pada masa “Khilafah” ? Bukankah berkembangnya paham Mu’tazillah di zaman Imam Ahmad bin Hanbal terjadi di zaman Khilafah (dan bahkan mendapatkan sokongan kuat) ? Lantas apa sebab munasabah dari itu semua ?

Kita refresh kembali pada nukilan di atas. Apakah benar kemunduran umat Islam ini akibat ketiadaan Khilafah yang mengakibatkan kaum kuffar berkumpul mempermainkan umat Islam sebagaimana berkumpulnya orang-orang mengerumuti makanannya ? Mungkin yang dimaksud oleh redaksi Buletin Al-Islam adalah hadits Tsauban maula Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها فقال قائل ومن قلة نحن يومئذ قال بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن الله في قلوبكم الوهن فقال قائل يا رسول الله وما الوهن قال حب الدنيا وكراهية الموت
“Hampir saja umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi hidangan makanannya”. Lalu seseorang bertanya,”Apakah kami pada waktu itu sedikit ?”. Beliau menjawab,”Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian seperti buih, yaitu buih banjir. (Pada waktu itu) Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian al-wahn (kelemahan)”. Orang tadi bertanya lagi,”Wahai rasulullah, apakah al-wahn itu ?”. Beliau menjawab,”Cinta dunia dan takut mati”. [HR. Abu Dawud nomor 4297, Ahmad 5/278, dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyaa 1/182; shahih lighairihi].

Ada banyak pelajaran yang terkandung dalam hadits ini. Akan tetapi di sini hanya akan disebutkan beberapa saja yang berkait dengan pembicaraan :

a. Umat Islam di masa kemunduran dan kehinaan itu berjumlah banyak, namun berselimut kebodohan/kejahilan tentang agamanya. Indikasi tentang kebodohan tersebut tergambar dalam perkataan Baginda shallallaahu ’alaihi wasallam : [ولكنكم غثاء كغثاء السيل] ”Akan tetapi kalian itu seperti buih, yaitu buih banjir”. Mafhum dari ciri-ciri buih banjir adalah :

- rapuh, cepat hilang lagi tidak berharga;
- bergerak sesuai dengan arus yang membawanya;
- tercampur kotoran tanah dan sampah.

Ciri-ciri buih banjir inilah yang tergambar dari umat Islam saat ini. Umat Islam yang rapuh, tidak punya pendirian, tidak kenal agamanya, teracuni oleh pemikiran-pemikiran sampah (syirik, bid’ah, dan yang lainnya), dan banyak yang hanya bermodalkan semangat saja ketika menjalankan aktiviti diniyyahnya.

Unsur utama kekuatan Islam bukanlah terletak pada persenjataan, tentera, teknologi, atau komponen material keduniaan lain. Akan tetapi terletak pada kekuatan aqidah dan manhaj. Jumlah yang banyak tidak punya banyak arti jika kosong dari isi (sebagaimana banyak kita jumpai fenomena Islam KTP). Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menafikkan kemanfaatan kuantiti dengan sabdanya : [بل أنتم يومئذ كثير] ”Tidak, bahkan pada saat itu kalian banyak”.

Hal yang sama adalah sebagaimana Allah memberi pelajaran berharga pada kaum muslimin dalam Perang Hunain :
وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً
”Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun” [QS. At-Taubah : 25].
Kebodohan inilah pangkal dari segala musibah. Dengan kebodohan, umat Islam berpecah-belah, berbuat syirik, bid’ah, dan maksiat.

b. Kaum kuffar tidak lagi takut kepada umat Islam karena kewibawaan yang dimilikinya telah hilang. Kewibawaan itu bukanlah sekadar bahwa umat Islam berkumpul dalam naungan ”Khilafah”. Akan tetapi, kewibawaan umat Islam itu ada karena iman dan aqidah yang kuat yang menyelimuti ruh dan jasad. Allah memenangkan suatu kaum karena iman, dan mengalahkan suatu kaum pula karena iman. Allah berfirman :
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الّذِينَ كَفَرُواْ الرّعْبَ بِمَآ أَشْرَكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزّلْ بِهِ سُلْطَاناً
”Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu” [QS. Ali Imran : 151].

Rasa takut yang Allah timpakan kepada hati orang-orang kafir yang menyebabkan mereka menjadi kaum ”terkalahkan” adalah karena kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Pendek kata, kaum muslimin dimenangkan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh musuhnya (kaum kuffar). Lantas bagaimana jadinya jika kaum muslimin sendiri bergelimang kemaksiatan dan berkubang kesyirikan ? Faktor apa lagi yang dapat menjadikan Allah memberikan kewibawaan dan kemenangan bagi kaum muslimin terhadap kaum kuffar ? (padahal persenjataan, tentara, dan teknologi kita kalah). Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah memperingatkan hal ini dalam nasihatnya kepada kaum Muhajirin :
يا معشر المهاجرين خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تدركوهن لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا بها إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مضوا ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا أخذوا بالسنين وشدة المئونة وجور السلطان عليهم ولم يمنعوا زكاة أموالهم إلا منعوا القطر من السماء ولولا البهائم لم يمطروا ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلط الله عليهم عدوا من غيرهم فأخذوا بعض ما في أيديهم وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم
“Wahai para Muhajirin, ada lima perkara (sebab kehancuran). Jika kalian ditimpa lima perkara tersebut dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya :

1. Jikal muncul perbuatan keji pada suatu kaum dan mereka melakukan secara terang-terangan, maka akan menyebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada nenek moyang sebelum mereka.
2. Jika mengurangi takaran dan timbangan, maka akan ditimpakan kepada mereka paceklik dan, kesusahan hidup, dan kesewenang-wenangan (kedhaliman) para penguasa atas mereka.
3. Jika mereka menahan zakat harta mereka maka akan ditahan hujan untuk mereka, seandainya bukan karena hewan ternak, niscaya tidak akan turun hujan atas mereka.
4. Jika mereka melanggar perjanjian yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan menguasakan musuh-musuh dari luar kalangan mereka atas mereka, lalu merampas sebagian yang ada di tangan mereka.
5. Selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum kepada Kitabullah dan memilih yang terbaik dari yang diturunkan Allah, maka akan Allah jadikan musibah di antara mereka sendiri” [HR. Ibnu Majah nomor 4019 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah nomor 106 dari hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu].

Jikalau yang kita lakukan sekarang adalah pembinaan aqidah dan iman yang benar (bukan sekadar slogan-slogan kosong tentang Khilafah belaka), tentu kita berharap dengan itu Allah akan mengangkat kehinaan ini dari kaum muslimin. Diperlukan waktu yang panjang. Bukan hari ini berbuat, esok ada hasilnya. Itulah usaha yang kita lakukan agar masyarakat Islam kembali kepada agama mereka secara kaffah. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :
إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
”Apabila kamu berjual beli dengan ’inah (jual beli sistem riba), memegang ekor-ekor sapi, ridla (terlalu sibuk) dengan pertanian, dan meninggalkan jihad; niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan menghilangkannya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian [HR. Abu Dawud nomor 3462 dengan sanad hasan. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah nomor 11].

c. Allah juga telah menyebutkan faktor kemunduran dan kehinaan adalah karena belenggu hawa nafsu duniawi. Hal ini tergambar dari perkataan beliau shallallaahu ’alaihi wasallam ketika menyebut hal tersebut dengan penyakit al-wahn [حب الدنيا وكراهية الموت] ”Cinta dunia dan takut mati”.
Cinta dunia dan takut mati merupakan penyakit kronik yang sedang berjangkit pada umat Islam. Penyakit ini merupakan efek yang ditimbulkan dari lemahnya iman. Gaya hidup materialistik yang notabene berasal dari kaum Yahudi dan Nashrani telah begitu teradopsi. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, umat Islam mengekor mereka sampai masuk ke lubang biawak. Hingga pada suatu saat, (mungkin) tidak bisa lagi dibezakan mana muslim dan mana kafir dari zahirnya.

Allah telah memberikan perumpamaan tentang kehidupan dunia kepada manusia :
وَاضْرِبْ لَهُم مّثَلَ الْحَيَاةِ الدّنْيَا كَمَآءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرّياحُ وَكَانَ اللّهُ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ مّقْتَدِراً * الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً
”Dan berikanlah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi pengharapan” [QS. Al-Kahfi : 45-46].
Dan Allah pun telah mencela orang-orang yang tertipu kehidupan dunia :
إَنّ الّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدّنْيَا وَاطْمَأَنّواْ بِهَا وَالّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ * أُوْلَـَئِكَ مَأْوَاهُمُ النّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
”Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat Kami; mereka itu tempatnya di neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan” [QS. Yunus : 7-8].

Cinta dunia menyebabkan takut mati. Takut terputusnya kenikmatan-kenikmatan yang telah ia peroleh sebelumnya. Apabila seseorang takut mati, maka hilanglah keinginan untuk berjihad di jalan Allah…………
Jika boleh kita simpulkan dari poin 1-3 di atas tentang kemunduran umat Islam, maka penyebabnya adalah kebodohan dan hawa nafsu yang menjadikan mereka jauh dari pemahaman dan pengamalan Islam yang benar. Itulah sebab esensial kemunduran dan kehinaan umat Islam dewasa ini.

Dan dengan kalimat ringkas harus dikatakan : Satu-satunya jalan keluar dari seluruh kehinaan dan kemerosotan itu adalah mengajak seluruh komponen umat Islam kembali pada ajaran Islam dengan sebenar-benarnya di ash-siraathil-mustaqqim (jalan yang lurus). Jalan lurus nan satu lagi tidak berbilang adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radliyallaahu ’anhu :
خط لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما خطا ثم قال هذا سبيل الله ثم خط خطوطا عن يمينه وعن شماله ثم قال هذه سبل على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه ثم تلا { وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله }
”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menggambarkan untuk kami sebuah garis, seraya bersabda : ”Ini adalah jalan Allah”. Lalu beliau kembali menggambar garis-garis lain di sebelah kanan dan kiri (dari garis yang pertama) seraya bersabda : ”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak) dimana pada setiap jalan tersebut terdapat syaithan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala : ”Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” (QS. Al-An’am : 153)” [HR. Ahmad no. 4142, Al-Hakim no. 3241, An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 11174, dan Ad-Darimi no. 202; hasan].

Jalan satu nan lurus itulah jalan para as-salafush-shalih sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Waqid Al-Laitsi radliyallaahu ’anhu ketika menjelaskan jalan keluar dari fitnah, bencana, dan balaa’ :
أَنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌفَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، فَقَالَ مُعَاذُ بن جَبَلٍ : أَلا تَسْمَعُونَ مَا يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالُوا : مَا قَالَ ؟ قَالَ : ” إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ، فَقَالُوا : فَكَيْفَ لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : ” تَرْجِعُونَ إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ
”Sesungguhnya akan terjadi fitnah”. Akan tetapi pada waktu itu banyak shahabat yang tidak mendengarnya. Maka Mu’adz bin Jabal berkata : ”Tidakkah kalian mendengar apa yang sedang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ?”. Mereka berkata : ”Apa yang beliau sabdakan ?”. Mu’adz menjawab : ”Sesungguhnya akan terjadi firnah”. Para shahabat bertanya : ”Lantas, bagaimana yang harus kami perbuat wahai Rasulullah ?”. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Kembalilah kepada urusan kalian yang pertama !”[HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 3232; shahih lighairihi].

Wallaahu a’lam bish-shawwab.

Abul-Jauzaa’

Nyanyian yang mengejutkan penonton

Friday, 6 April 2012

Lelaki Yahudi Ini Mengislamkan Jutaan Orang



Jad adalah seorang lelaki keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani.

Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berjaya mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang pensyarah di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun selepas kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam.

Ibunda Jadullah menuturkan, anaknya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan pelbagai cara untuk mengembalikan anaknya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

'' Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,'' ujar ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati anaknya sendiri kepada agama Yahudi.

***

Kisah Jad dan Ibrahim

Lima puluh tahun lalu di Perancis, Jad berjiran dengan seorang lelaki Turki berusia 50 tahun. Lelaki tersebut bernama Ibrahim. Ia mempunyai kedai makanan yang letaknya di dekat pangsapuri tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun.

Jad seringkali membeli keperluan rumah tangga di kedai Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan kedai, Jad selalu mengambil coklat di kedai Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahawa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, kerana ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyedari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

"Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apa-apa tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah coklat, itu semua milikmu!" ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berunding pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah.

Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim mengeluarkan sebuah buku dari laci almari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara rawak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua helai dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan nasihat dan penyelesaian untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun.

Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berunding. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu tergoncang. Kerana selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan penyelesaian atas semua masalah yang dihadapinya.

Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan "Hei Yahudi" atau "Hei kafir" bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

***

Hari berlalu, setiap kali ditimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian cuba membuka laman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak boleh membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berbangsa Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua helai dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan penyelesaian untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak boleh lagi dibendung. Ia pun bertanya pada kawannnya, "Arahan apakah ini?" tanyanya. Temannya pun menjawab, "Ini adalah Al-Quran, kitab suci umat Isam," ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, "Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?"

Temannya menjawab, "Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat." Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad menukar namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Quran yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini.

Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Al-Quran.

Suatu hari, Jadullah membuka laman Al-Quran pemberian Ibrahim dan mencari sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik ..." Jad pun kemudian yakin bahawa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad.

Jadullah pun meninggalkan Eropah dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bahagian selatan Sudan di mana majoriti penduduk negara tersebut beragama Kristian.

Jadullah berjaya mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berjaya dia Islamkan. Subhanallah.

sumber dari republika.co.id


ULASAN SAYA :

Dari kisah ini ternafi segala dakwaan Tabligh yang mendakwa hanya jemaah mereka sahaja buat kerja dakwah atau hanya dengan menyertai jemaah mereka sahaja dakwah akan berhasil dan berbagai dakwaan lain yang senada dengannya.

NAK FAHAM TABLIGH MESTI KELUAR 40 HARI?





 
PERTANYAAN

Saya tertarik untuk mengetahui tentang jemaah Tabligh. Kalau kita tahu sikit-sikit saja memang susah hendak faham, apa-apa perkara pun begitu. Betulkah kalau hendak memahami jemaah ini kita mesti keluar 40 hari ke Nizamuddin?

PANDANGAN

Pandangan saya… untuk memahami sesuatu jemaah/ perkara itu TIDAK SEMESTINYA kena jadi sebahagian daripada jemaah/ perkara itu. Cuma… dengan menjadi sebahagian daripadanya, itu akan mempercepatkan, memudahkan dan membanyakkan pemahaman kita berbanding dengan menjadi pemerhati atau pengkaji dari jauh sahaja.Yang pentingnya, kita mesti membiasakan sikap ingin ambil tahu sama ada dari pada sumber-sumber lisan (perbualan), penglihatan (lihat sendiri, bacaan, tontonan VCD dll) atau pendengaran (dengar ustaz2 dll).
Kita sama-sama faham yang Tuhan Maha Berkuasa. Dia boleh memberi kefahaman kepada sesiapa saja yANg disukainy (*Hakikatnya- Allah yang berkuasa beri faham, bukannya individu, jemaah, perkara, makhluk dll)

Bayangkan… ada 73 golongan umat Islam, belum cabang-cabang kecilnya lagi. Setiap golongan dan cabangan mengatakan dialah yang selamat. Mestikah kita menjadi ahli kepada setiap golongan itu baru kita boleh tentukan mana yang benar?
Untuk faham sedikit tentang Tabligh kononnya kita mesti keluar 3 hari, kemudian 40 hari dan barulah keluar 4 bulan. Proses ini tentunya memakan masa hampir-hampir setengah tahun.

Kemudian masuk pula jemaah lain, jemaah demi jemaah… Berapa puluh atau ratus tahun baru kita nak dapat pemahaman untuk semua golongan dan cabangan yang ada?
Tambah-tambah lagi kalau aliran tasauf, nak faham satu-satu perkara sampai ke hakikatnya kadang-kadang 20-30 tahun. Jawabnya… sampai matipun takkan habis nak faham semua golongan dan akhirnya semua masa kita habis begitu saja. Tuhan tak akan memberatkan kita dengan apa yang tidak kita sanggupi.

Lihat pengalaman Imam al-Ghazali dalam mencari golongan yang paling baik (menurutnya) sebgaimana yang dinukilkan dalam kitabnya AL-MUNQIZ MIN ADH-DHALAL (Selamat Drpd Kesesatan).Pada zamannya ada beberapa golongan terbesar yang masing-masing hebat dan dikatakan yang terbaik seperti golongan Mutaalimun, Batiniyah, Falsafah dan Sufi (tariqat & tasauf dll.

Beliau mendakwa:
“Aku tidak meninggalkan seorang ahli Batiniyah (kebatinan) melainkan setelah aku menghalusi tentang batiniyah itu. Dan aku tidak meninggalkan seorang ahli Ilmu Zahir melainkan aku telah mengetahui aspek kezahirannya. Dan aku tidak meninggalkan seorang ahli Falsafah melainkan setelah aku mengetahui hakikatnya. Dan aku tidak meninggalkan seorang ahli Mutakallimin melainkan setelah aku berusaha untuk mempelajari tujuan percakapannya dan tidak aku meninggalkan seorang ahli Sufi melainkan setelah aku mengetahui rahsia kesufiannya….”, dan panjang lagi…

Daripada kata-katanya ini, tahulah kita bahawa Imam Ghazali mengakui yang dia mendapat pemahaman secukupnya akan setiap aliran yang diambiltahunya. Kita perhatikan bagaimana cara Imam al-Ghazali untuk mendapat pemahaman akan setiap aliran itu.

Golongan Ilmu Kalam

Kefahaman tentang ini diperolehinya melalui fikirannya sendiri, membaca buku-buku golongan ini lalu mengarang tentang ilmu ini. Akhirnya beliau meninggalkan aliran ini setelah mendapati pada kemuncak ilmu aliran ini ada masalah.
Adakah al-Ghazali pergi ke markas utama golongan ini? Tidak.
Adakah dia mengikuti aktiviti-aktiviti golongan ini? Tidak.

Golongan Ahli Falsafah

Al-Ghazali mengambil masa dua tahun mengkaji golongan ini tanpa membuat sebarang bacaan atau kajian-Subhanallah. Cukup dengan pemikirannya sahaja. Malah beliau telah smapai ke kemuncak Ilmu Falsafah dan menadapati aliran ini juga bermasalah lalu meninggalkannya.
Ada Imam Ghazali ikut aktiviti kumpulan ini? Tak ada!
Ada dia pergi ke “Nizamuddin’ bagi aliran ini? Tak ada!

Golongan Ahli Taklim

Cukup dengan Imam Ghazali mengkaji buku-buku mereka, mengumpulkan ucapan-ucapan mereka dan kemudiannya mengarang tentang golongan ini. Hanya dengan ini saja dia berjaya sampai ke kemuncak matlamat Ahli Taklim dan kemudiannya meninggalkan golongan ini setelah dia memahami kelemahannya.

Golongan Tasauf

Beliau mengkaji buku-buku ulama tasauf terdahulu seperti Abu Talib al-Makkiy, Junaid, Asy-Syibli, Abu Yazid Bustami dan al-Harith al-Mahasibi. Juga mengumpulkan kata-kata hikmat guru-guru kepada ulama-ulama besar tadi untuk kajiannya. Kemudian dia melatih dirinya dengan ilmu golongan ini. Akhinya beliau mendapati golongan ini adalah yang paling benar lalu memegangnya hinggalah ke akhir hayat sebagaimana katanya;

“…aku yakin bahawa orang-orang sufi merupakan golongan yang mengikut jalan semata-mata menuju Allah. Cara hidup mereka adalah sebaik-baik kehidupan dan tariqat yang diikutiadalah jalan yang paling tepat, serta akhlak mereka adalah sebersih-bersih akhlak.”

Dia mencapai kemuncak pengetahun golongan ini hanya dengan cara di atas tanpa perlu pergi ke “Nizamuddin” untuk golongan ini.

Imam Ghazali mengakui yang dia telah mencapai kemuncak setiap golongan itu sebgaiaman dakwanya:
“Aku yakin seseorang itu tidak mengetahui kecacatan sesuatu ilmu melainkan setelah dia mengetahui kemuncak ilmu itu sendiri sehinggalah dia menyamai orang yang paling mnegetahui asal usul ilmu itu.”

Jadi, aliran-aliran yang ditinggalkannya itu ditinggalnya hanya setelah dia mencapai kemuncak setiap aliran. Kalau dia (*Al Ghazali) hendak memahami Tabligh, tanpa perlu menjadi seorang karkun maka dia berupaya untuk menyamai pemahaman pengasas Tabligh iaitu Maulana Muhammad Ilyas.

Maka dengan contoh ini, tidaklah boleh kita terima dakwaan : “Nak faham jemaah aku, kamu mesti ke Nizamuddin”. Cuma… dengan menjadi sebahagian daripada sesuatu jemaah, itu akan mempercepatkan, memudahkan dan membanyakkan pemahaman kita berbanding dengan menjadi pemerhati atau pengkaji dari jauh sahaja. Kita sama-sama faham yang Tuhan Maha Berkuasa. Dia boleh memberi kefahaman kepada sesiapa saja yang disukainya.

Wallahu'alam.

Alexanderwathern 2005

Wednesday, 4 April 2012

CIRI-CIRI LELAKI SOLEH





SIAPAKAH YANG DIMAKSUDKAN DENGAN LELAKI SOLEH

Lelaki Soleh dapat di definisikan sebagai seorang lelaki muslim yang beriman (mukmin), bersih dari segi zahir dan batinnya, mengambil makanan yang bersih dan halal(bukan dari sumber yang haram)serta sentiasa berusaha menjauhkan dirinya dari perkara perkara yang akan mendorong kearah maksiat dan menariknya ke jurang NERAKA yang amat dalam. Lelaki soleh juga ialah seorang lelaki yang sentiasa taat kepada Allah swt. dan RasulNya walau dimana sahaja mereka berada dan pada bila bila masa sahaja.

Kesolehan dan keimanan seseorang tidak dapat dilihat dan diukur dari segi lahiriah semata mata kerana ianya adalah berkait rapat dengan masalah AKIDAH dan KEYAKINAN, kepada siapa dia menyerah keyakinan dan ketaatan dan sebaliknya. TAUHID merupakan dasar tertinggi dalam kehidupan yang harus sentiasa dipelihara kerana apabila tauhid tidak betul dan sempurna, maka seluruh amalan yang dilakukan adalah sia-sia sahaja. Apabila telah jelas kepada siapa kita memberikan perwalian dan terhadap pihak mana kita menolak kepimpinan, barulah Tauhid akan menjadi kenyataan dan berdiri dengan tegaknya dalam jiwa seseorang. Oleh yang demikian, jelaslah bahawa kesolehan seseorang lelaki itu tidak dapat dinilai dari segi lahiriah semata-mata. Ianya adalah lebih jauh dan mendalam dari itu senua. Antara hal-hal yang harus dilihat dan dikaji pada setiap individu muslim ialah perkara-perkara yang bersangkutan dengan keyakinan, tujuan dan pandangan hidup serta cita-cita dan jalan hidup seseorang itu.

KRITERIA-KRITERIA LELAKI SOLEH SEPERTI YANG DIMAKSUDKAN OLEH AL QURAN DAN AL HADIS.....

1. Sentiasa taat kepada Allah swt dan Rasullulah saw.
2. Jihad Fisabilillah adalah matlamat dan program hudupnya.
3. Mati syahid adalah cita cita hidup yang tertinggi.
4. Sabar dalam menghadapi ujian dan cabaran dari Allah swt.
5. Ikhlas dalam beramal.
6. Kampung akhirat maejadi tujuan utama hidupnya.
7. Sangat takut kepada ujian Allah swt. dan ancamannya.
8. Selalu memohon ampun atas segala dosa-dosanya.
9. Zuhud dengan dunia tetapi tidak meninggalkannya.
10. Solat malam menjadi kebiasaannya.
11. Tawakal penuh kepada Allah taala dan tidak mengeluh kecuali kepada Allah swt
12. Selalu berinfaq samaada dalam keadaan lapang mahupun sempit.
13. Menerapkan nilai kasih sayang sesama mukmin dan ukhwah diantara mereka.
14. Sangat kuat amar maaruf dan nahi munkarnya.
15. Sangat kuat memegang amanah, janji dan kerahsiaan.
16. Pemaaf dan lapang dada dalam menghadapi keboduhan manusia, sentiasa saling koreksi sesama ikhwan dan tawadhu penuh kepada Allah swt.
17. kasih sayang dan penuh pengertian kepada keluarga.

Selain daripada ciri-ciri diatas, orang orang yang soleh juga merupakan insan insan yang senantiasa mendapat ujian dan cubaan daripada Allah swt. setelah para nabi nabi dan orang orang yang mulia. Mereka menghadapi segala ujian tersebut dengan hati yang tabah dan tetap teguh dalam keimanan serta pendirian. Mereka tidak mudah menyerah kalah dari keganasan dan tekanan musuh.

Tugas tugas dan kewajipan Lelaki Soleh........

1. Mencari nafkah ( belanja hidup)
2. Berjihad Fisabilillah.
3. Melindungi dan membela kaum yang lemah dan tertindas.
4. Memimpin, mendidik dan berlaku adil terhadap isteri.

BERJIHAD FISABILILLAH Jihad merupakan amal yang paling utama dan puncak ketinggian Islam. Tidak ada satu pun amalan soleh yang dapat menandingi Jihad. Orang soleh tidak sedikit pun merasa gentar dan takut apabila berjuang menegakkan agama Allah sebaliknya sentiasa tersenyum bangga menjadi seorang "Pegawai Allah" dengan gelaran paling indah iaitu MUJAHIDIN. Inilah yang dimaksudkan dengan lelaki soleh, yang mana pekerjaan utamanya membunuh atau terbunuh. Jika tidak terbunuh, maka ia mesti membunuh. Tidak terdapat alternatif lain kecuali satu antara dua 'YUQTAL AU YAGHLIB' yakni TERBUNUH atau MENANG.

Wallahu'alam

Tuesday, 3 April 2012

ULANGKAJI REALITI AKHIR ZAMAN



Rahsia Misi Dajjal Di Timur Tengah

Majoriti masyarakat mengatakan tujuan Amerika menyerang Iraq, Afghanistan dan menguasai minyak negara-negara Islam lain adalah kerana mahukan minyak dan sumber kewangan.

Di sini ingin saya jelaskan TIDAK. Ia bukan faktor utama, tetapi saya bersetuju jika dikatakan tujuan ‘menyerang’ itu sebagai ’salah satu faktor’.


Benarkah Dajjal Perlukan Wang?

Dengan penguasaan penuh syarikat-syarikat gergasi Yahudi di seluruh dunia daripada pembuatan seluar dalam hinggalah kepada stesen angkasa lepas, adakah mungkin Dajjal masih memerlukan wang untuk meneruskan agenda ketuhanannya?

Harus diingat, matlamat akhir Dajjal adalah memastikan…

“Semua masyarakat dunia menyembahnya sebagai Tuhan”
Untuk meneruskan misi di atas ada 3 perkara yang menjadi faktor penghalang
1. Imam Mahdi
2. Nabi Isa a.s.
3. Agama Islam

Senario Sekarang VS Kemampuan Dajjal


Kita perlu memahami dua persoalan ini iaitu senario/situasi yang berlaku sekarang dengan kemampuan yang telah dikecapi Dajjal.
Adakah sesuatu yang logik, Dajjal yang telah dikurniakan Allah SWT pemikiran yang genius, umur yang panjang, mendapat pertolongan Iblis, Syaitan dan Jin serta tinggal di rumah Segitiga Bermuda yang kebal itu masih memerlukan wang masyarakat dunia?

Jika dibandingkan dengan situasi sekarang, media Islam dan antarabangsa melaporkan kerajaan-kerajaan Dajjal iaitu Amerika dan Britain melakukan serangan ke atas Afghanistan dan Iraq untuk mendapatkan minyak.

Benarkah begitu?

Saya paling tidak setuju dengan kenyataan ‘mencuri minyak’ oleh media massa. Itu bukanlah faktor utama. Pasti ada misi tersembunyi yang mendokong misi Dajjal melancarkan serangan ke atas Afghanistan dan Iraq.

Wang sudah tidak menjadi masalah dan bukan lagi suatu masalah kepada Dajjal, agen-agen Dajjal sudah pun menguasai minyak dunia sejak 400 tahun dahulu bermula dengan empayar keluarga Rothschild, Rockefeller dan Halliburton.

Misi Sebenar Dajjal

Teliti hadith-hadith ‘misi’ Imam Mahdi dan Nabi Isa a.s. yang disabdakan oleh Rasulullah SAW
Berdasarkan fakta-fakta hadith seperti di bawah, kita dapat ketahui suatu misi tersembunyi Dajjal yang telah pun dilaksanakannya sekarang.
Al-Mahdi berasal dari keturunanku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung, ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagai mana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan, dia berumur tujuh tahun.”
(Riwayat Abu Daud dan Hakim)

“Kemudian kamu akan memerangi kaum Rom dan kamu akan mengalahkan mereka dengan izin Allah .
(Riwayat Bukhari)

Semua perkataan diatas adalah bermaksud misi Imam Mahdi selepas dibaiahkan oleh umat Islam.
Apakah Dajjal tidak tahu akan misi ini? sudah pasti ia tahu.

Dajjal yang genius itu sudah pasti dapat membaca matlamat perjuangan Imam Mahdi melalui hadith ini. Dajjal tidak perlu menumpukan kepada teori-teori tempat kelahiran Nabi ISa a.s. kerana Dajjal tahu Nabi Isa akan ‘diturunkan’ dari kerajaan langit bukannya dilahirkan semula dari perut-perut wanita Islam.

Misi sebenar Dajjal ialah .
“Mencari dan membunuh Imam Mahdi melalui pencerobohan dan peperangan di negara-negara Islam”
Dajjal mengetahui dan diberi pengetahuan bahawa kemunculan Imam Mahdi berbeza dengan kemunculan Nabi Isa a.s.

Imam Mahdi seperti yang disebutkan Rasulullah akan lahir dari keturunannya sendiri iaitu sebelah puterinya Fatimah. Manakala perwatakan Imam Mahdi dari segi fizikal dan zahiriah adalah hampir serupa.

Menyedari bahawa Imam Mahdi adalah bersifat manusia biasa yang ‘akan dilahirkan’ oleh seseorang di atas muka bumi ini, maka Dajjal memikirkan penting untuk mencari ‘individu-indiivdu’ yang dijangka melahirkan Imam Mahdi.

Teori Tentang Strategi Dajjal
 
Disini saya ingin membentangkan teori-teori tentang strategi Dajjal untuk mencari ibu-ibu yang bakal melahirkan Imam Mahdi.

Secara logiknya adalah sukar bagi Dajjal. Tetapi secara praktikalnya Dajjal mempunyai pilihan terbaik, iaitu ….

Untuk mencari anak-anak kecil yang bakal menjadi Imam Mahdi, hadith-hadith Rasulullah dan pandangan-pandangan ulama’ harus diambil kira.

Pandangan ulama’ perlu bagi Dajjal kerana Imam Mahdi adalah superhero untuk umat Islam, dan kelibatnya amat ditunggu-tunggu sehinggakan ada yang mengaku Imam Mahdi.


Jika kita mengambil maklumat dari hadith, ulama’ dan faktor sejarah, maka keputusan tentang kemunculan Imam Mahdi akan diperoleh seperti berikut:

#Teori 1 : Imam Mahdi di Iraq dan Iran
Rasulullah mengatakan Imam Mahdi akan lahir dari keturunan Fatimah - maka Imam Mahdi adalah cucu-cicit dari keturunan Hassan dan Hussein kerana Fatimah berkahwin dengan Saidina Ali bin Abi Talib.
“Al-Mahdi berasal dari anak cucuku, dari keturunan Fatimah.”
(Hadis riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim)

Kaitannya dengan Iraq dan Iran, - Negara Iraq yang luas itu mempunyai jumlah majoriti penduduk Syiah 70% berbanding penduduk Sunni. Mengikut pandangan penganut Syiah, Imam Mahdi akan lahir dari keturunan Hussein.

Penganut mazhab Syiah amat berpegang teguh dengan kepercayaan ini, mereka dengan penuh yakin mengatakan Imam Mahdi akan muncul dari kalangan Syiah, tambahan pula Iran sekarang semakin menghampiri tampuk negara kuasa utama dunia.

Maka adalah logik untuk Dajjal menyerang dan memporak perandakan kedua-dua negara ini kerana Imam Mahdi mungkin akan lahir dari penduduk Iran dan Iraq. Untuk mencari dan menyelidik setiap seorang adalah sukar, dengan menghapuskan wanita-wanita Islam dan kanak-kanak sekali gus lebih mudah.

Senario sekarang dilihat tentera PBB terus ditempatkan di Iraq, ianya sebenarnya sebagai langkah berjaga-jaga memerhati kemunculan Imam Mahdi.

Afghanistan adalah negara kecil yang kaya dengan minyak tetapi teramat kuat dari segi keimanan penduduknya walaupun terdapat pelbagai suku.

Semenjak kemenangan Mujahiddin ke atas Soviet Union, ia mengundang pelbagai persoalan dan tanda tanya terhadap para perancang perang Amerika dan Eropah
Apakah keistimewaan Mujahidin?

Memandangkan keturunan Saidina Hassan dan Hussein berselerakan di merata dunia, maka ramalan bahawa Mujahidin dipimpin oleh bakal-bakal Imam Mahdi kelihatan logik bagi Dajjal.

Dajjal tidak mengenali Imam Mahdi, jadi menyerang secara gerila negara kecil ini sudah memadai untuk melenyapkan Imam Mahdi.

Sehingga sekarang tentera PBB ditempatkan di Afganistan.Ianya sebagai langkah mengawal keamanan menurut setiausahanya.

Tetapi bagi saya ianya sebenarnya sebagai langkah ‘berjaga-jaga’ menanti kemunculan Imam Mahdi.

Pernahkah kita terfikir?

Pernahkah kita terfikir, apa lagi yang diperlukan Amerika di Iraq selain minyak. Apakah tidak cukup minyak yang terdapat di Afghanistan. Atau ada faktor lain yang menyebabkan Amerika akan terus meletakkan tenteranya di situ.

Pada 8 Disember 2006, Al-Jazeera melaporkan 6 kanak-kanak dan 8 wanita telah di bunuh di kampung Ishaqi, 90km di utara Baghdad. Pembunuhan ini dilakukan oleh pasukan tentera udara Amerika yang menjatuhkan bom di dua buah kediaman orang awam.

Wartawan CNN sendiri iaitu Mike Mount, Jomana Karadsheh dan Barbara Starr pada 12 Oktober 2007 melaporkan, tentera Amerika dalam operasi terbarunya telah membunuh 15 kanak-kanak dan wanita sekali gus. Tiada lelaki yang maut dalam operasi itu.

Dan berpuluh-puluh lagi berita pembunuhan orag awam yang majoritinya adalah kanak-kanak dan wanita yang berlaku.

Jadi, apakah kaitannya wanita dan kanak-kanak dalam operasi ini?

Adakah ianya kebetulan?

#Teori 2 : Imam Mahdi adalah orang kaya Muslim
“Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya, dan dia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya.”
(Riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim)

Kemungkinan Dajjal mengetahui akan maksud Rasulullah SAW ini, dan dia (Dajjal) tahu khalifah Islam itu adalah seorang kaya yang beriman. Dajjal mungkin tidak tahu siapa, tetapi dalam mengatur strategi adalah lebih baik membuat andaian bahawa:
“Semua orang kaya Muslim hendaklah dikawal atau pastikan tiada orang Muslim menjadi kaya.”
Jika strategi di atas diambil kira, kita boleh mengandaikan Dajjal telah bersedia menghadapi situasi ini untuk membendung kemunculan Imam Mahdi.

Lihat sahaja orang kaya Muslim di dunia, siapa paling kaya? Sudah pasti orang Arab terutamanya keturunan-keturunan kerabat Diraja Saudi, Kuwait dan UAE. Tetapi adakah mereka ini bebas.

Tidak! Mereka tidak bebas, mereka terikat dengan perjanjian-perjanjian konsesi minyak di negara mereka. Kekayaan mereka adalah dari pemberian syarikat-syarikat minyak Yahudi yang melombong di tempat mereka.

Bagi saya, Dajjal tahu perkara ini, tetapi Dajjal mengambil langkah lebih awal lagi agar mana-mana orang kaya Muslim yang menonjol keimanannya dapat diperhatikan, Dajjal bimbang sekiranya orang kaya tersebut adalah individu yang dimaksudkan dalam hadith di atas.

Kesimpulan
Pada pandangan peribadi, saya amat yakin tujuan sebenar Dajjal menakluk dan menguasai ekonomi negara bukan sahaja di atas faktor politik dan ekonomi, tetapi ianya sebenar dijadikan jalan pintas untuk meninjau dan membendung kelibat atau tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi yang dijanjikan Allah SWT.

Wallahu’alam

ULASAN SAYA :
Teringat kisah perancangan Firaun laknatullah untuk menghalang kelahiran Nabi Musa as yang akan menjatuhkan kerajaannya tetapi taqdir ALLAH tetap berlaku.

Walaupun kebanyakkan hadith berkenaan Al Mahdi menjadi khilaf para ulama akan kesahihannya,
sekurang-kurang jika ia benar muncul maka umat islam telah bersedia dengan maklumat awal.
 
Cuma persoalannya apakah peranan kita dalam hal ini?
Di akhirat nanti kita tidak akan ditanya hasil kerja kita berjaya atau tidak tetapi yang akan di tanya ialah kita telah melaksanakan tugas atau tidak?
 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...